![]() |
| Pixabay.com |
Sejak awal tahun ini rasanya berbeda, sangat panas. Lebih panas dari musim kemarau, sering terjadi perang jemari di media sosial dan mulut-mulut ganas oleh salah satu paslon mereka. Musim kampanye pilpres dan caleg berebut kekuasaan, berebut pula hati masyarakat. Banyak netizen yang berseloroh tak pantas dan saling lempar kelemahan atau aib saingan paslon mereka. Ihwal ini membuat beberapa kasus, seperti terpecahnya silaturahmi, pertengkaran atau pun keributan. Baik dengan saudara, tetangga atau orang lain, naudzubillah.
Belum lagi kasus kekerasan siswi terhadap sesama siswi dibawahnya, juga siswa yang berani melawan dan bertindak tidak sopan dengan guru mereka. Cermin pendidikan yang menohok mata dan ulu hati yang terdalam. Sungguh, sebagai seorang ibu sangat trenyuh. Mengingat perjuangan membesarkan dan merawat anak hingga besar adalah proses yang luar biasa tidak mudah namun tidak pula sulit.
Sebagai netizen, kalau saja tidak bisa mengendalikan diri, bisa saja tersulut ikut jemari lincah mengetik komentar. Mengumpat, ikut mencaci, menuding jelek naudzubillaah. Padahal kita tidak tahu sebenarnya yang terjadi, pewarta dan berita sering tidak berimbang dari dua sisi. Antara sisi pelaku dan korban berikut ruang lingkup sekitarnya. "Adol jare batine nean" itulah istilah orang jawa mengatakan jika tersebar berita yang beredar. Yang artinya "menjual katanya dan mendapat untung, mungkin". Islam mengajarkan kita untuk tabayyun.
Tabayyun merupakan mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya. Sedangkan secara istilah tabayyun adalah meneliti dan meyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah baik dalam hal hukum, kebijakan dan sebagainya hingga jelas benar permasalahannya. Kemudian meniup ruh diri untuk khudnudzan (berprasangka baik). Sebisa mungkin memilih diam, cukup tahu tanpa terus mengorek kepo dan mengucap banyak istighfar. Sebisa mungkin tidak mengumpat, sebab ucapan adalah doa. Tidak ada seorang pun menginginkan hal buruk terjadi pada keluarga manapun.
Untuk mengurai kegelisahan keadaan, coba sering angkat obrolan bersama pasangan atau teman dekat. Cari waktu saat santai atau obrolan sebelum tidur bersama suami. Memiliki pasangan dengan satu pilihan atau yang berbeda tetap menjaga kedamaian. Atau menulis di notepad ponsel. Secara hari gini sudah jarang ada buku diary, jika punya website, semacam blog atau wordpress bisa saja diuraikan unek-uneknya. Bila perlu piknik untuk menyegarkan otak.
Biar saja mereka yang ribut, cukup kita melihat dilayar ponsel dan televisi. Menjadi pengingat akan aset yang miliki oleh tiap orang tua, yaitu buah hati. Tanggung jawab masa depan yang sangat panjang berproses urusan dunia dan akhirat. Cukup mereka jadi pelajaran berharga. Menjadi orangtua dan anak memiliki kesamaan yaitu sama-sama belajar. Belajar menjadi orangtua yang sholeh dan sholehan yang mampu mendidik anak yang sholeh dan sholehah pula. Yang mengutamakan akhlakul karimah dan budi pekerti.
Jangan sampai kita dikenal dengan "tukang poyok atau tukang maido" istilah orang ngapak bagi orang yang suka menghina atau mencibir. Boleh mengkritisi tapi yang membangun. Kita tidak tahu kedalaman hati seseorang. Tidak semua orang kebal dengan hinaan, banyak orang yang mudah terbawa perasaan. Berikut pasal yang mengingatkan kita untuk berhati-hati menjaga jemari di laman sosmed. Pasal 29 UU ITE dinilai telah memuat ketentuan tentang pengiriman pesan elektronik berisi ”ancaman” atau upaya ”menakut-nakuti”.
Yakni Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mengirimkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi.
Ancaman hukuman atas pelanggaran pasal itu adalah Hukuman pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.2.000.000.000,00 (Pasal 45 ayat 3).
Aksi merisak atau merundung di dunia maya (cyber bullying) ini akan di sisipkan di Pasal 29 tersebut.
