Iklan

Sunday, 31 March 2019, March 31, 2019 WIB
Last Updated 2019-04-07T03:07:18Z

Tumpah, Ini Dia Kesenian Yang Dikomersilkan Di Jalanan Jakarta

Kolase foto diambil dari berbagai sumber


Bagi kaum urban yang tinggal di Jakarta tentu sangat paham. Mengutip banyak orang ngomong, "Hidup di Jakarta itu keras oy". Benar, selama hampir kurun waktu berdomisili di pusat ibu kota tepatnya di kampung Baru kecamatan Johar Baru. Merupakan  perkampungan sangat padat penduduk pasti merasakan kepenatan itu. Dulu pengamen seperti pada umumnya berkeliling bernyanyi dan membawa alat musik gitar, ukulele atau lainnya.

Kesempatan kerja yang kurang tersedia dan tuntutan hidup membuat orang berinovasi mencari nafkah. Tidak perlu menunggu ada hajatan atau acara tertentu, dengan mudah dijumpai di jalanan ondel-ondel lengkap dengan iringan musik betawi, barongsai yang tak harus dikuasai bermata sipit, sisingaan tak harus didaerah Jawa Barat, calung dengan seragam lengkap, sinden dan tarub beserta kebaya berselendang dll. Mereka bergerombol menyusuri jalanan ibu kota dengan kostum dan aksesoris kesenian mereka. Sekitar 2 orang lebih dalam satu team, salah satu dan dua diantaranya membawa ember. Tangannya mengocok ember dan mengulurkan tangan kesemua warga yang lewat, rumah, toko yang berpenghuni.

Berisik, ah sudah biasa. Warga Jakarta bagian mana yang tidak terbiasa dengan kebisingan. Membudayakan toleransi dan tenggang rasa. Suka atau tidak saat hajatan tetangga musik bervolume besar dari pagi hingga tengah malam terus dinyalakan. Macet, juga makanan sehari-hari. Seketika bisa mendadak padat saat rombongan kesenian itu lewat. Belum lagi harap maklum saat jalan raya dijadikan tempat resepsi. Lumrah, dengan kondisi rumah yang tidak memiliki rumah dan teras yang luas lalu modal menyewa gedung yang tidak ada. Dalam sehari bisa ada 2 - 3 bergilir rombongan itu melewati jalan dekat tempat tinggal. Dan semua rasa itu menjadi satu ada senang saat itu menjadi hiburan murah ada kala juga kesal. Lagi-lagi berujung sabar, terus belajar legowo kata orang jawa.

Ini belum termasuk kesenian yang  seperti dangdut dorong, badut mampang dan topeng monyet. Dari sekian kesenian itu anakku suka sekali menonton topeng monyet. Bahkan bisa bangun tidur saat mendengar hentakan xilofon mengiringi topeng monyet.  Monyet mungil itu dipaksa mengikuti perintah, naik motor-motoran, sepeda mainan dll dengan ditarik tambang yang kuat. Ihwal ini yang pernah jadi masalah dan dilarang saat gubernur Jakarta di tangan Joko Widodo tahun 2014, sebab menyakiti primata dan untuk melindungi hewan primata.

Ohya, satu lagi odong-odong. Yaitu sebuah alat permainan kelililing sebentuk becak yang berisi tempat duduk bergoyang. Tempat duduk ada yang berupa binatang atau kendaraan (kereta api, mobil atau sepeda motor). Tempat duduk yang dinaiki anak-anak usia balita ini bisa bergoyang oleh dinamo yang digerakkan oleh kayuhan tukang Odong-odong. Ini  menjadi favorit anak-anak, termasuk anakku Mika. Sambil digoyang-goyang ditemani musik dengan lagu anak-anak. Namun kadang ada juga odong-odong dengan lagu yang tidak ramah anak.

Dan semua itu, pendengaran anakku tajam menebak suara-suara musik dari luar jendela. Jika ondel-ondel, barongsai, topeng monyet, calung memiliki musik yang khas. Tapi tidak dengan sisingaan, badut mampang, odong-odong mereka menggunakan musik dangdut yang kencang. Maka tak heran, jika anakku lelagi ingin menengok jendela atau minta ke atas loteng untuk sekedar memastikan kesenian mana yang lewat.

#qismika'smomstory