![]() |
| Deviantart.com |
"Pakai ini cocok?", sambil memutar badan dan berlenggak-lenggok. "Kerudungnya kurang lebar, terus ga usah dimodel-model yang aneh, sederhana saja" ujarnya dengan nada datar. Sejak memiliki pasangan halal seperti ada fashion stylist pribadi. "Begini, Bi?" timpaku usai diperbaiki. "Kurang gede, Mi" sambil menarik kerudung yang lain dari lemari. "Tapi itu gak cocok warnanya" bibirku mulai manyun. "Bukan masalah cocok atau tidak, melainkan urusan aurat yang harus dipertanggung jawabkan". "Tapi ini sudah menjulur menutup dada, Bi" nada suaraku meninggi. Lelaki berambut ombak itu hanya membisu, mukanya menyembunyikan kekesalan.
Melangkah lebih pagi mencari rezeki. Sudah 2 minggu toko tutup tanpa ada yang menjaga. Usai 2 minggu ditinggal pemiliknya menikah denganku. Sekarang menjadi ladang keringatku juga. Melepas karier dan menanggalkan status karyawan menyalin diri menjadi istri.
Tangannya kuraih saat menyeberang persimpangan jalan yang riuh kendaraan berlalu lalang. Sedari tadi tiada tangan bersentuhan sejak mengunci pintu kamar kontrakan yang mungil. Jemariku erat menggenggamnya. Tak nyana, tanganku ditarik lebih dekat dan ditempelkan diperutnya. "Kalau nyebrang lihat kanan-kiri" ujarnya. Kupandangi wajahnya yang tak begitu rupawan tapi menyejukkan dipandang. "Aduh, innalillah" aku tersandung. "Hahaha dibilang kalau jalan lihat-lihat" dia menertawaiku renyah, hingga giginya terlihat.
Pukul 13.00 WIB, terik mentari di Jakarta yang garang. Sebuah kipas berputar kencang menemaniku terdiam duduk dikursi plastik. Belum juga ada pelanggan yang mampir sedari pagi. "Boleh mampir, ada yang bisa dibantu, Pak?" mulut kering suamiku berucap berkali-kali. Deg! hati ini tersentuh. Lelagi pejalan hanya berlalu. Bagi seorang introvert sepertiku tampil dimuka umum dan banyak bicara adalah hal yang sulit. "Ini sudah biasa, pernah sampai 2 minggu tidak ada orderan" ujarnya. "Pantas saja terlatih sabar, begini latihannya yak" jawabku sambil menahan tangis. Semangkok soto mie Bogor dan sepiring nasi sudah siap santap didepan meja. Bisa dikatakan menghemat dan juga romantis. Kami makan sepiring berdua, meski tak ada adegan suap-suapan. Sesekali menawari makan pada pejalan yang lewat. Seorang ibu patuh baya berhenti didepan toko, menanyakan barang. Kebetulan ada dan dibayar kontan. Harga yang sepadan 2 nasi bungkus dengan teh manis, ini terjadi pukul 15.05 sebelum kumandang Asar.
***
"Di rumah saja, dari pada di toko bengong hayoo" saran suami di pagi yang basah.
Melepas kepergiannya dengan menatapnya hingga punggungnya hilang dari pandangan dari balik jendela lantai 3. Belum kering rasanya ku cium punggung tangannya yang sawo matang, lalu sebuah kecupan mendarat dikening, dilepas dengan pelukannya yang hangat. Ah, padahal hanya melepas keberangkatannya bekerja yang tak begitu jauh dari rumah.
Sebuah lagu mengiringi kami dari Foreigner
I wanna know what love is
I want you to show me
I wanna feel what love is
I know you can show me
I'm gonna take a little time
A little time to look around me
I've got nowhere left to hide
It looks like love has finally found me
In my life there's been heartache and pain
I don't know if I can face it again
I can't stop now, I've traveled so far
To change…
Seperti melayang di udara. Bersamanya ada bahagia, kesal, tangis dan tawa. Tak ada televisi hanya layar ponsel dan berteman buku. Sejak berstatus istri belum genap satu purnama rasa-rasanya mimpi. Telinga ini jadi sering diracuni lagu rock klasik, seperti dari Gun n Roses, Scorpion, Europe, Metallica, Foreigner, Queen, Judas Priest, Deep Purple dll. Lagu-lagu keras itu mampu meluluhkan jiwa, menikmatinya. Sungguh, suara serak-serak khasnya memainkan lirik dengan apik.
Sesekali menghentak-hentakkan kaki seiring gebukan drum yang menghantam keras. Ada gitar yang sedikit melengking-lengking ditelinga. Terkadang kepala ini juga ikut mengangguk-angguk patah. Mungkin kalau tak tertahan lagi bisa headbang macam pemain musik rock yang dipanggung saat perform. Rambut panjang plus ikat kepala, jaket kulit, celana jean belel dan bersepatu boot. Mmh, terlihat garang tapi itu sedikit gambaran pelaku musik rock. Menikmatinya sambil menyetrika baju, pun membangkitkan semangat.
***
"Kenapasih semua baju gak ada yang rapi, apalagi di kemeja terutama dibagian kerah" omelan pagi yang merontokkan hati, "Jangan bilang semua dong, Bi. Coba cek lagi" ujarku membela diri. "Selalu saja kalau dibilang melawan, diam kenapa" tak terasa tetesan air menetes, semakin lama semakin menderas.
'Sebagai penulis tentu paham penempatan diksi. Lebay menggunakan hal secuil untuk menyatakan kesuluruhan. Lagi pula belum tentu saat masih bujang semua siap saji, wangi dan rapi. Baju tinggal pakai tanpa mikir nyuci, gosok. Makan tinggal masuk ke mulut' ujarku memberontak dalam hati.
"Mi, berangkat" ujarnya sebelum membuka dan menutup pintu kembali. Tetesan air mata masih saja mengalir. Ada sisa tetesan dipunggung tangannya. Aku memeluknya menahan kesal, "udah gak usah nangis" ujarnya. Aroma parfumnya menempel menusuk hidung saat ia jauh meninggalkan ruangan. Segera kurebahkan badan dan memeluk guling yang bersarung warna orange, menahan emosi sendiri.
Mencoba menepis segala perasaan, perlahan menarik napas panjang dan menyelimuti diri dengan istighfar. Raga ini bangkit dan menyusun rutinitas. Baiklah, kubongkar semua tumpukan kemeja yang dilemari. Satu persatu disetrika kembali, memastikan licin dan rapi.
***
![]() |
| Brilio.net |
Senja mulai bergulir ke barat. Semburat keemasannya menampakkan maha karya Sang Pencipta. Tetiba ada ucap salam dari balik pintu. Lelakiku sampai di rumah. Sebuah plastik hitam kecil ia tenteng dan menyerahkannya padaku, lalu kususul dengan ciuman yang mendarat di punggung tangannya. Rujak buah segar dengan bumbu sambal. "Buat calon dede" ujarnya. Aku menyeringai lebar, sementara belum ada tanda-tanda kehamilan datang.
Badanya lusuh bercampur keringat dan debu jalanan ibu kota. Wajahnya berminyak namun sisa parfum tadi pagi masih tercium. "Cape, Bi" tanyaku, usai mencolok potongan mangga dengan sambal. "Enggak, orderan dikit. Tapi cape jalan kaki". "Ah, itu mah biasa" jawabku. "Coba ada kendaraan yah, Bi". "Insya Allah nanti kalau ada rezeki" jawabnya, "Aamiin"
***
Kembali telinga ini dimanjakan dengan radio dari ponsel yang terhubung salon. Lagu-lagu slow rock menemani kamar mungil tanpa AC. Hampir setiap hari menguliti malam dengan obrolan kecil dan candaan. Sesekali menyentil masa lalu yang dibuat kelakar. Kaki-kaki telanjang ini saling mengadu. Menghadap jendela yang menatap rembulan yang sinarnya temaram.
"Bi, nyesel nikah ga?" tanyaku sambil melingkari tubuhnya yang ramping. "nyesel" sambil berekspresi sedih, "Nyesel kenapa gak dari kemarin-kemarin" tawanya lepas sambil menciumi pipiku.
#qismika'smom

