Warga Adisana sedang dihebohkan dengan ditemukan puisi yang beredar di sosmed. Akhir-akhir ini kaum milenial cenderung dengan menggunakan meme. Lebih singkat, ada nilai kocak, humor namun kritikan pun dapat.
Berbeda dengan puisi, dengan rima, diksi yang tidak mudah dan berbait-bait pula. Kreatif sekali. Membuat puisi terkadang tidak sehari jadi. Ada inspirasi dan intuisi. Dan tidak semua orang bisa.
Nah, disini lah makna sastra yang tak melulu soal roman picisan. Dengan gaya bahasa yang indah. Puisi-puisi tsb berhasil menangkap kegelisahan dirinya dan lingkungan Adisana. Dari spot Lahup, Kali keruh, BSI,Bulakan bahkan sosok ikonik Muhayah.
Maknanya dengan puisi yang cantik, cerdik itu diharapkan kegelisahannya bisa dirangkul pemerintah setempat. Seperti BSI yang sepi, berarti ada PR besar pemerintah setempat untuk meramaikan usai ramai saat pembukaan bulan April lalu.
2 puisi yang sedang viral ini ditulis bulan oktober ini, masih hangat. Dari judul, "Kenapa Harus Tambeng" saja sudah jelas "tambeng" artinya yang mendengarkan bukan berarti tidak bisa mendengar, bisa jadi pura-pura tuli. Lalu dari judul " Kenapa Tidak Rumangsa" juga jelas dari kata 'Rumangsa' dalam bahasa ngapak sadar diri. Jadi sangat lah jelas jika puisi tersebut menggambarkan kegelisahan, ketidak puasan dan ingin didengar.
Awalnya, puisi berjudul Kenapa Harus Tambeng dulu dibuat lalu di jawab oleh puisi Kenapa Tidak Rumangsa. Keduanya puisi ciptaan netizen yang budiman asli warga Adisana.
Di puisi jawaban dijawab lugas. Kekecewaan tertera gamblang saat panen ayam tiba di Baruamba. Maka warga sekitar secara otomatis ikut panen lalat yang menjijikan, belum lagi akibat yang terjangkit yang dibawa kotoran dan lalat itu sendiri. Beternak boleh, tapi harus mengikuti aturan, tanggung jawab sosial, norma adat, agama. Ini semua tentu atas izin bangunan pemerintah terkait.
Menyinggung soal mata air kali sirah yang dimusim kemarau selalu membuat risau. Lelagi swadaya masyarakat yang bergerak. Belum lagi masalah sampah yang tidak memiliki pembuangan sampah secara sehat. Tidak pengolahan sampah sejak dulu, dari saya kecil sampai lahir anak kecil dari rahim selalu saja blumbang jadi sasaran sampah. Blumbang oh blumbang kasihan nasibmu, dikotori menerus tiada henti.
Lanjut, desa terpelosok seperti Pring Jajar, Keputihan, Dukuh Tengah jalan yang berliuk itu belum disentuh aspal. Hanya bebatuan yang dijajar rapi lalu tersiram hujan bebatuan itu pongah dan menusuki roda-roda kuda besi yang melindas. Ini tak seindah dan tak seramah senyum sumringah Muhayah.
Ohya Karang Taruna, kumpulan anak muda tonggak penerus bangsa. Keberadaannya adalaj aset untuk keluarga, masyarakat dan bangsa. Sayang keberadaannya yang sangat banyak, pemerintah acuh tak acuh. Sayang, sayang seribu sayang.
Karya sastra selalu lahir sesuai dengan perkembangan zamannya. Puisi, sebagai salah satu bentuk karya sastra menjadi salah satu sarana penyampaian krtitik terhadap kondisi sosial masyarakat yang sedang terjadi. Puisi dipilih selain karena memudahkan penyampaian maksud penyair namun juga memudahkan pembaca untuk memahami maksud tersebut. Apalagi pada masa reformasi ini sudah tidak ada lagi pembatasan-pembatasan untuk mengeluarkan pendapat dan pemikiran melalui tulisan. Puisi Indonesia modern mengikuti perkembangan zaman tersebut.
Jadi ingat sebuah quota, "Politik itu kotor dan yang membersikannya adalah puisi"


