Iklan

Tuesday, 20 August 2019, August 20, 2019 WIB
Last Updated 2019-08-21T00:31:43Z
Opini

Perbedaan Kondangan Jaman Dahulu Vs Sekarang ala Bumiayuan


Tulisan ini menguraikan kondangan versi orang Bumiayu dan sekitar. Bukan cerita kondangan di crazy rich Asian 😆 Khawatirnya jika melihatnya ke atas jiwa misqueen terus meronta-ronta terus sesak napas 😅 Warga Bumiayu umumnya hidup sederhana dengan kerukunan dan kekeluargaan yang kental.

Berikut uraianya, dijamin pikiran anda akan terbawa ke masa lalu dan sekarang. Lalu ikut mengingat-ingat dan membandingkan

1. Undangan atau ulem-ulem

>>Dulu
Undangan dijual bebas di pasar dengan harga murah meriah. Perlembar bisa dihargai 100 perak, jika mengambil dengan jumlah banyak bisa lebih murah. Tidak banyak pilihan, biasanya bergambar pengantin. Undangan berbentuk blangko dengan mengisi secara manual nama kedua mempelai, kedua orangtua mempelai, tempat, hari dan tanggal acara. Dan yang paling penting nama yang diundang.

>>Sekarang
Tekhnologi mempermudah, undangan dicetak sesuai pesanan bisa tanpa foto atau tidak.  Pemesan tinggal memberi nama yang diundang. Dengan banyak pilihan atau custom, baik secara design 2Dimensi, 3Dimensi maupun dalam bentuk video yang akan dibagikan melalui sosial media.

2. Tenda atau layos

>>Dulu
Dengan tiang-tiang bambu dan atap terpal cukup untuk melindungi panas dan hujan. Sedang alasnya digelar tikar dan sajian makanan dalam toples yang berjejer rapi.

>>Sekarang
Wedding Organizer (WO) biasanya sudah menyediakan langsung tenda beserta dekorasinya yang indah. Tenda yang beratap lembaran seng dan bertiang besi berdiri kokoh di depan rumah.  Meja dan kursi tamu diberi sarung yang senada.

3. Pelaminan

>>Dulu
Sepasang janur kuning atau kembar mayang dibuat dua buah dengan bentuk yang sama. Kaitannya dengan dekorasi rias pengantin khas jawa, kembar mayang melambangkan kesatuan kedua pengantin. Kedua mempelai diharapkan agar memiliki kesamaan hati, perasaan dan kehendak. Dekorasi kembar mayang dihiasi dengan kombinasi macam-macam buah. Paling seru saat ritual pengantin selesai buah itu jadi rebutan. Sedang background atau gebyog berupa dekorasi tangan dari kain batik yang dibentuk sedemikian rupa. Untuk kursinya minimalis.

>>Sekarang
Pelaminan dan tenda biasanya masih sepaket dalam WO. Seiring perkembangan zaman yang perkembang pesat pelaminan orang Jawa tidak jauh dari gebyog dari ukiran. Didekor cantik dengan pemanis bunga, lampu dll. Kursi pelaminan bak singgasana raja dan ratu.

4.Outfit pengantin

>>Dulu
Pengantin dengan kostum jawa yang kental. Kebaya meniran warna hitam beludru yang tampak klasik dan lelaki menggunakan beskap senada dengan topi yang memanjang ke atas. Riasannya terdiri dari paes tanpa prada berwarna hitam, dengan gelungan sanggul sasakan dan melati yang menjuntai di pundak hingga dada. Jarang ditemui pengantin berhijab dan jarang pula dengan busana basahan.

>>Sekarang
Pengantin lebih modern. Kebaya sudah banyak dimodifikasi, tidak melulu hitam ada banyak warna dan pilihan. Namun tidak meninggalkan tradisi Jawanya. Riasan lebih komplek dan seringnya pengantin terbalut hijab.

5.Outif kondangan

>>Dulu
Emak berkostum kebaya dengan cindung kepala kemudian dilapisi selendang yang disilangkan ke pundak. Sendal lily atau sendal jepit saja sudah cukup. Dandan bedak tipis dan sedikit lipstik biar tidak pucat. Sedang untuk kostum bapa cukup dengan kemeja, paling keren pada saat itu dengan setelan safari dengan banyak saku di bajunya. Untuk kaum muda penampilan cukup baju casual dan sopan.

>>Sekarang
Outfit emak sekarang kebanyakan bergamis dengan set kerudung yang senada. Biar terlihat mewah bahan gamis yang digunakan brokat, satin atau memainkan bordir, payet. Untuk anak muda lebih ribet, sangat memperhatikan mix & match. Sandal dan tas disesuaikan dengan baju. Dandannya full make up, dari foundation, bedak, eye shadow, maskara, lipstik dll.  Sedang untuk para bapa tetap konsisten dengan kemeja. Paling sering berbatik. Pilihan lain kostum buat pasangan yaitu baju sarimbit. Keduanya memakai baju dengan motif senada, biasa menyebutnya baju couple 😀

6. Wadah kondangan dan isinya

>>Dulu
Sebuah baskom yang isinya berupa beras 2,5kg kemudian dibungkus dengan taplak yang diikat menyilang. Jika ada tambahan menyumbang (istilah: impang-umpang) berupa mie atau kue kering.

>>Sekarang
Kranjang dari anyaman sintesis mendominasi. Selain lebih nyaman saat dibawa juga ringan. Isinya beras 2,5 kg dan mie kotak 2 bungkus. Jika diuangkan setara dengan uang sekitar Rp. 30.000. Entah siapa yang menentukan, adat ini sudah berlaku dan semua orang mengikuti seiring perkembangan zaman.

7. Penyajian makanan kondangan

>>Dulu
Wadah nasi berupa daun pisang atau daun jati. Nasi dibungkus dengan ditakar mangkok dan diletakkan ditengah daun. Dari kedua samping menutupi nasi dan sisa daun yang panjang dilipat kedalam. Ini berlaku untuk kondangan para emak. Sedang lauknya ditaruh di sudi (menyerupai piring yang dibuat dari kertas atau daun). Yang ditaruh yaitu sayur buncis, ikan asin (gluk, gesek), telor separu, kacang biji dan serundeng. Sedang untuk kondangan nasi dengan wadah piti. Anyaman bambu yang membentuk mangkuk. Lauknya sama hanya telurnya tidak buta alias utuh. Semua bahan berbahan alam dan bisa diurai ditanah dengan mudah.

>>Sekarang
Kecanggihan tekhnologi sudah menggeser tradisi dan peradaban. Tak ada daun pembungkus nasi. Yang ada minyak kertas dan cepon plastik. Semua tersedia dipasar dan tinggal ditukar dengan uang. Lauk yang disajikan lebih instan kebanyakan mie, telor bulat, tempe, kentang kadang diganti dengan buncis.

Mengingat kondangan mengingatkan hal yang romantis. Dulu waktu kecil, telor menjadi barang mewah. Setiap emak pulang kondangan sebutir telor dibagi banyak. Anak bungsu paling dapat yang besar dan sisulung harus mengalah.
Kalau penulis paling rindu srundeng kelapa ondangan dan lodeh kacangnya, kalau kamu kangen apanya? (*)