![]() |
| Masjid Jami Faidlur Rohman RT 01 desa Dukuh Kweni |
Dug! Dug! Dug! Bunyi bedug dari ujung Dukuh Kweni sudah dipukul. Pertanda sebentar lagi kumandang adzan akan diserukan. Toa-toa itu menghadap seluruh penjuru ke warganya, mengeraskan lantunan panggilan sholat. Usia toa yang sudah berganti seiring dimakan waktu.
Para muadzin menyeru dibalik microfon. Suaranya tidak semerdu adzan di TV. Meski demikian suara seruannya pasti semua warga sangat paham. Adzan adalah puisi yang paling indah. Dituliskan dan diserukan dengan baik, benar, indah dan suci. Paket lengkap yang tidak dimiliki oleh lagu ciptaan manusia.
Ada 6 mushola dan 2 masjid di desa Dukuh Kweni kelurahan Adisana. Masing-masing bertempat di sebuah RT. Dari 7 RT ada 2 masjid besar yakni di RT 01 & 02. Kedua masjid tsb biasa dilaksanakan sholat Jumat. Berikut nama-nama mushola dan masjidnya;
RT 01 masjid Jami Faidlur Rohman
RT 02 Masjid Baitul Arqom
RT 03 mushola Makhalul Khoer
RT 04 mushola Makhalul Sujud
RT 05 mushola AlBarokah & Al Ijtihad
RT 06 mushola Mahalul Ittihad
RT 07 mushola Al Ikhlas
Desa kecil yang tidak begitu luas itu tidak sepadat desa yang lainnya. Dukuh Kweni sendiri diapit desa Adisana dan Baruamba. Kurang lebih 1500 penduduk mendiami desa ini. Ini dihitung saat lebaran tiba. Ketika anak, cucu berkumpul dan para pemuda-pemudi pulang merantau. Sebagian besar bermata pencaharian sebagai tani. Baik mengurus ladang sendiri atau orang lain.
Kembali soal mushola. Setiap mushola memiliki toa sendiri-sendiri. Jadi wajar, saat adzan tiba suara pengeras datang dari segala sisi. Belum lagi tetangga desa pun ikut terdengar. Ihwal perawatan, sistem kerelawanan sangat mendominasi. Tidak ada gaji tetap untuk pengurus masjid atau yang disebut marbot.
"Cimitan", istilah ini diambil dari bahasa jawa yang artinya iuran yang sedikit-dikit. Menganu sistem cimitan beras itu yang mereka lakukan. Melalui musyawarah mufakat warga berbagi kepengurusan mushola. Hasil cimitan beras tsb lalu diuangkan dan disimpan. Nantinya akan dikeluarkan jika ada keperluan mushola. Seperti perawatan mushola atau santunan anak yatim.
Berbeda dengan kedua masjid besar, keduanya memiliki DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) jangkauannya meliputi seluruh warga Dukuh Kweni. Masjid pada umunya sebagai sarana pemberdayaan umat yang sangat penting. Masjid setidaknya punya tiga fungsi yang sangat mendasar, yaitu fungsi zikir, fungsi pikir, dan fungsi sosial. Tidak hanya dijadikan tempat sholat. Ada ibadah lain seperti tempat BAZ (Badan Amil Zakat) atau pun tempat pengajian yang rutin.
Bercerita tentang Muadzin, Masjid Faidlur Rohman memiliki muadzin yang sangat senior. Usianya sudah kepala 7. Diusianya yang senja tetap konsisten, ini dilakukannya sedari saya di bangku Madrasah sampai sekarang menjadi ibu diusia kepala 3. Masya Allah, tabarokalloh untuk bapak Tajwidin. Beliau yang memukul bedug menjelang dhuhur tiba.
Bagi petani, bedug itu sangat berarti sebagai penanda waktu. Petani tidak membawa jam. Terlebih dihari Jumat tiba. Ada 2 kali pukulan. Warga menyebutnya "banggen 1, 2". Pukulan banggen ke-1 dengan tujuan bersiap-siap (warga pulang dari sawah dan kebun) dan banggen ke-2 menjelang adzan tiba.
Hampir semua muadzin bapak paruh baya atau usia senja. Pertanyaannya, mana suara anak muda? Kebanyakan pemuda pemudi kampung setelah lulus sekolah mereka merantau. Para orangtua hendaknya mendorong putranya untuk mencintai (memakmurkan) masjid. Memberi kepercayaan untuk mendekatkan anak dengan rumah Allah. Anak muda pun harusnya sadar untuk mati tidak harus menjadi tua. Minimal mengingatkan kematian agar rajin beribadah.
Dari uraian di atas, tercermin bahwa masyarakat Dukuh Kweni memiliki tingkat kesadaran religi yang tinggi. Kesadaran sosial, hidup rukun dan damai.
