Iklan

Thursday, 28 March 2019, March 28, 2019 WIB
Last Updated 2019-03-30T11:17:38Z
Tekno

Ketika Mesin Perontok Padi Tak Selamanya Berguna, Kenapa?

Dokumen pribadi
Setelah padi ditanam selama kurang lebih 3-4 bulan, padi yang sudah menguning dan bijinya merunduk selanjutnya tidak akan lepas dari proses panen. Merupakan proses yang membutuhkan banyak tenaga dan masih ada kelanjutan proses lainnya hingga menjadi beras. Di kelurahan Adisana yang mayoritas berprofesi sebagai petani ini hal biasa saat musim panen tiba. Sebagian besar yang memanen adalah kaum hawa, terutama ibu-ibu.
Akhir-akhir ini mesin treser atau perontok padi sudah berada ditengah-tengah mereka. Juragan padi yang telah menyediakan fasilitas tsb. Mesin yang berguna untuk merontokan padi dari tangkainya dengan gilasan mesin yang cepat. Kehadiran tekhnologi canggih ini tidak selamanya diterima. Meski seringnya mempermudah pekerjaan.

Diakui Sarti 55tahun warga Dukuh Kweni, lebih capai menggunakan mesin. Sebab harus mengantri lama dan yang paling buncit bersedia membantu yang lain membawa gabah hingga didekat jalan raya. Sedang jika paling akhir, seringnya tidak dibantu membawa. Satu orang biasanya mendapat 3-4 pocong.

Istilah pocong diambil dari karung yang diikat pada ujungnya. Berarti satu orang akan membawa beberapa pocong gabah yang bukan miliknya dan miliknya sendiri. Sedang jalan yang ditempuh ada naik turun dan jauh.

Semua melewati jalan kaki melalui pematang sawah. Ini diamini juga oleh Mutoharoh 35tahun. Ibu satu anak ini menuturkan, mesin harus dibawa ke tempat panen tidak mudah.

Minimal 3 orang yang tenaganya kuat, padahal mesin sudah dipisah rangkaiannya menjadi 3 bagian. Belum lagi medan yang sulit dan setelah selesai mengembalikannya. 

Semakin membuat repot dan lebih banyak waktu yang dihabiskan lagi melelahkan.

Kedua ibu tsb lebih memilih di jalan konvensional. Dengan menggunakan kayu yang dipukul-pukul dan menggilas-gilas dengan kaki. Tidak peduli kaki gatal dan perih.

Melalui itu, mereka bisa bersama-sama selesai dalam waktu yang hampir bersamaan.Tidak ada ketimpangan siapa yang duluan. Ini memakan proses lebih cepat dibanding dengan mesin.

Terkadang, mereka enggan ikut panen, lebih memilih bersama anak, karena menghindari mesin. Lebih dari itu dengan alat sederhana itu kebersamaan mereka lebih terjalin indah.

Tekhnologi manapun memiliki efek samping atau kendala ketika di lapangan. Seperti yang paling dekat dengan kita yaitu ponsel. Mendekatkan yang jauh tapi menjauhkan yang dekat.

Sejalan dengan mesin treser, memilih berkumpul bersama keluarga dan meliburkan sejenak dari rutinitas pekerjaan adalah pilihan yang sangat bijak. 

Seperti para ibu petani yang berjuang membantu penghidupan keluarga dengan tenaga dan susah payahnya mencari sesuap nasi. Tumbuh kembang anak tidak akan terulang dan waktu terus bergulir maju.