![]() |
| Foto Deni Blr |
Tak harus anak muda seperti mahasiswa, pelajar, emak-emak, bapa-bapa atau siapa pun boleh berdemonstrasi di indonesia, tidak dilarang, tapi dengan syarat damai dan tertib. Secara tidak langsung sebagai wujud solidaritas, silaturrohmi dan melawan mager. Dan hari itu juga mereka bukan kaum rebahan.
Demontrasi atau unjuk rasa dijamin oleh Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Siapapun boleh berunjuk rasa dengan syarat berjalan damai, tertib dan sesuai aturan, jika sudah melanggar aturan, maka aparat berwenang mengambil tindakan.
Sejak dulu anak muda Indonesia memang kerap melakukan aksi unjuk rasa. Kita ingat dulu demontrasi menjadi penanda dimulainya gerakan reformasi pada 21 tahun silam. Begitu pula demontrasi September silam. Diketahui aksi ini untuk menolak pengesahan sejumlah RUU. Mulai dari RUU KUHP, Revisi UU Permasyarakatan, RUU Minerba dan RUU Pertanahan. Dan tak kalah rutinnya, demonstrasi kaum buruh tiap tahun yang menuntut kenaikan gaji dan menolak autsorsing.
Demo pada dasarnya bertujuan untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada para pejabat pemerintah yang berwenang. Maka dalam demo yang baik, pertemuan dan diskusi dengan perwakilan pemerintah hendaknya diupayakan. Diskusi tersebut diharapkan bisa mendorong pemerintah meninjau kembali permasalahan yang diprotes masyarakat.
Bayangkan jika tidak ada orang yang mau berdemo. Tentu sebagai peringatan pemerintah desa. Sementara masyarakat tidak diam dan menuntut bukti janji dan perbaikan demi perbaikan. Maka dengan ikut berdemo, kamu turut menyadarkan pemerintah sehingga bisa jadi mereka terdorong untuk membuat perbaikan.
Demo juga bermanfaat menyadarkan masyarakat sekitar soal isu yang sedang terjadi. Hal yang mendesak digedor adalah soal transparansi dana desa dan underpass atau lahup. Lahup adalah gerbang utama menuju Adisana. Lahup berasal dari kata la (berasal dari bahasa arab) artinya tidak dan hup artinya berhenti. Jadi, saat melewatinya tidak berhenti, meskipun diatas ada kereta sedang melaju.
Setelah deklarasi Aliansi Pemuda Adisana (APA) terbentuk di 2 November. Awalnya dimulai dari kegelisahan anak muda yang melihat ketimpangan lingkungannya yang ditulis dalam puisi. Lalu merambah sosmed, yaitu facebook dengan nama Facebooker Adisana Membangun. Sekarang jumlah pengikut grup 1,3K. Dengan massa yang banyak itu, pemuda menyusun rencana menuntut untuk merealisasikan janji pemerintah yang sudah ada. Selain itu APA telah berhasil menyatukan 14 desa kelurahan Adisana, yaitu Adisana, Dukuh Mingklik, Blere, Glempang, Karang Pucung, Dukuh Kweni, Baruamba, Sidamukti, Karang Gamblok, Pring Jajar, Dukuh Tengah, Keputihan, Baru Untung. Dan sayangnya, desa yang perbatasan seperti Pring Jajar, Keputihan, Karang Gamblok banyak yang belum tersentuh aspal. Dan berkat desakan upaya APA, kini perlahan sudah direalisasikan.
Kegiatan lain setelah 2 minggu APA berdiri, yakni aksi seni mural lahup. Para seniman Adisana melukis tembok lahup dengan aneka gambar yang mencerminkan kondisi pemerintah. Lahup dibangun tahun 2012, sementara yang lama dibiarkan. Alasan Kades pemborong bangunan kabur. Masa jabatan 2 periode yang tidak sebentar itu harusnya terus diupayakan. Jika sering dikomunikasikan dengan dishup dan KAI tentu tidak akan mangkrak.
Tentu untuk kepentingan bersama. Lahup yang lama sempit dan lahup baru lebih luas dan tinggi. Ini mengakibatkan banyak kecelakaan. Ukuran mini bus tidak bisa masuk. Dikhawatirkan jika ada kebakaran mobil kebakaran tiba, tidak bisa sampai tujuan. Saat demo yang berlangsung pagi, sementara jalur lahup dilumpuhkan dikuasai massa yang datang berdatangan.
"Lahup adalah hal yang mendesak, ditutupnya akses lahup sementara, dari pukul 08.00- 11.30 WIB saat demo. Tidak lain sebagai wujud empati. Banyak korban kecelakaan patah tulang dll. Besar harapannya dengan banyaknya massa yang datang akan lebih cepat didengar pemerintah" ujar sekretaris APA.
Hari gini, kekuatan sosmed melalui kecanggihan gawai kekuatan massa sangat mudah dipengaruhi. Adisana adalah potret kecil kehidupan politik rasa nasional. Mungkin juga akan mendorong desa-desa lain yang merasakan hal yang sama.
Gerakan APA atau bentuk ketidaknyamanan masyarakat apapun, adalah bukti peringatan pemerintah desa untuk tidak 'ecan-ecan'. Mengemban amanah yang sejatinya menjadi pelayan masyarakat. Kerjasama simbiosis mutualisme, saling keterikatan dan berkaitan.
