Iklan

Tuesday, 5 November 2019, November 05, 2019 WIB
Last Updated 2019-11-05T16:02:46Z

Surat Terbuka Untuk Kepala Desa Adisana

Foto by Deni Blere


Aku pun ingin bersolek

Assalamualaykum, pak kades
Tanpa mengurangi rasa hormat saya. Biar makin akrab, aku adalah murid kesayanganmu, dulu. Engkau menjadi wali kelas di bangku MTs kelas 3, belasan tahun yang lalu. 2 tahun lalu engkau masih menyapaku via facebook, dan mengucapkan kegembiraanya usai tahu aku menikah. Romantis, bukan? Hehe. Aku bahagia tapi tidak gembira melihat kampung yang usang. Jalanan bergelombang dan sering menyebabkan kecelakaan. Termasuk aku, waktu itu usia 7 bulan kandunganku dan terjatuh dari vespa hanya 20meter dari rumaku. Ala kulli haal Allah memberi selamat meski sempat cemas, gelisah tak berujung. Akupun menceritakan via inbox, engkau membalas bulan Januari akan diaspal namun molor hingga berbulan-bulan. Itu pun diaspal sebab konon cerita kau pun jadi korban. Ups!

Sekarang sosmedmu membisu. Wargamu yang di desa juga kekinian tak tertinggal untuk masalah gadget. Wargamu lebih berani menggunakan akun sosmed dengan nama pemberian orang tua. Bersenang hati membagikan kegiatan sehari-hari, 'segelas kopi pahit dan pisang goreng bikinan istri mantap!(emotikon lope), itu status pagi, belum siang dan malam. Terlebih ada masalah atau usai jalan-jalan. Tidak sepertimu akunmu baaanyaak, bukan nama asli, setidaknya profil foto asli 😀 Ohya, sosmed salah satu cara efektif berkomunikasi. Apalagi sebagai publik figur kayak kamu iya kaamuu 😍😍 Sekelas presiden pun aktif bersosmed, Ridwan Kamil, Anies Baswedan dll selalu membagikan kegiatan-kegiatanya. Aku followernya, komentar baik atau nyinyir udah biasa, warga +62 sukak dengan bunga-bunga ghibah 😆

Merinding dan bangga melihat menggeliatnya Aliansi Pemuda Adisana (APA) berawal dari puisi-puisi yang viral yang seharus tersentil telinganya, tercolok matanya dan menggetarkan hati. Kamu dengar kan? Waktu mas Hendri membacakan puisi diacara deklarasi APA di 2 November lalu. Masyarakat bersorak kegirangan kegelisahan, uneg-unehnya tersampaikan. Sementara kamu diam, menyilangkan tangan erat kedada dan kepalamu merunduk. Dan beserta jajaranmu pun sama. Terdiam, mematung dan menggigil. Tok tok tok, hello apakah sudah tertancap hatimu? Harusnya malu, singgasanamu boleh saja berpendingin ruangan. Ajiiib! Tempelan ditembok banyak yang koyak. Dinding usang dihinggapi debu manjah dan tambal sulam. Jika tembok bisa bicara, "aku bopeng, rawat aku" sambil menangis sejadinya. Lain lagi toilet seperti tempat uji nyali tanpa lampu, bau semerbak...hirup yang panjang biar lebih nikmat.

Ah sudahlah! PR buwanyaak sekali. Jangka pendek tuntutan lahup yang harus segera terselesaikan. Selanjutnya jaga kesehatanmu, makan teratur dan minum air yang banyak. Pura-pura bahagia diatas penderitaan rakyat juga butuh energi. Semoga tidurmu lelap.

Musim kemarau akan berlalu, selamat datang musim hujan. Kemarau membuat sumber air debit air berkurang. Terlebih aset desa tuk bulakan dan tuk podol yang harus dikelola PDAM. Aku berharap tidak serakah, bukan hanya untuk manusia tapi ada sawah yang membentang lebar. Sawah pun butuh minum, pohon-pohon, binatang-binatang pun. Sebentar lagi juga panen lalat. Mengerubungi rumah, menuju meja makan lalu berpesta pora. Emak-emak dibuat risau bukan kepalang. Panen ayam pun tak pernah, sepeser kompensasi tak ada buat warga. Sekedar buat beli gethuk sama ibu wasmi atau gorengan sama ibu azizah.

Hujan mengguyur lebat, sampah-sampah dari blumbang itu hanyut. Ke sungai, tanah, udara dari bau busuk ke pemukiman. Kotor! Menjijikan! Tak ada tempat pembuangan sampah, warga memilih blumbang. Blumbang bukan solusi tepat. Malah membuat masalah baru. Sejak dulu sekali, tak ada pembuangan sampah yang dikelola pemerintah desa.

Tak selesai jika kuuraikan. Aku tidak lagi bercerita seorang murid yang sudah menjadi emak. Melainkan bicara aku adalah desa. Ingin bersolek. Menata gapura dengan gagah, balai desa yang rapi bersih, aman, tentram warganya, pamong dan jajaran pemerintah yang adil, berilmu dan bertaqwa, begitu pula SDM nya. Para pemuda berekspresi dengan bahagia, bakatnya tersalurkan, berpendidikan tinggi dan berakhlak.  Gak hanya kamu yang gagah dengan seragam dinasmu, sepatu pantopel tinggi. Berbewok tipis dan kumis tebal. Tampan bukan?? Desaku pun begitu, klimis dengan sentuhan senimu yang terabaikan.

#qismika'smom

Penulis: Afidatun Nasihah