Iklan

Monday, 5 August 2019, August 05, 2019 WIB
Last Updated 2019-08-06T22:53:24Z
Opini

Pintu Oh Pintu, Begini Kenangan Manisnya

Dokumen istimewa, taken by papah Mika
Sebelum ada permainan digital, anak-anak lebih sering bermain di luar rumah. Mengeksplor alam dengan segala keterbatasan menjadi keseruan yang tidak ada habisnya.

Salah satu spot yang sering dikunjungi anak-anak pada masa sebelum 2000an, selain kali Keruh adalah Pintu. Pintu berada di area persawahan disekitar wilayah Dukuh Kweni, Adisana, Penggarutan dan sekitarnya. Nama lain dari pintu air. Orang-orang sudah terbiasa menyebutnya cukup dengan sebutan pintu. Pintu air yang mengatur debit air dan membagi air dari mata air Bulakan ke kali Pemali dan kali Pemaron untuk kepentingan irigasi.

Aliran air yang ke kali Pemaron, biasanya digunakan anak-anak ciblon atau adus-adusan. Istilah ciblon diambil dari bahasa ngapak. Sepasang teras dipinggir kali berdiri kokoh. Disampingnya grojogan atau air terjun yang begitu tinggi yang membuat anak-anak sering bermain. Cipratan membawa kesejukan buat penikmatnya. Mereka berlompatan dari teras dan berenang menyusuri kali yang tidak begitu dalam. Sesekali mereka juga duduk diteras untuk menjemur badan. Sementara bagi yang ingin istirahat, ada sebuah pohon waru doyong yang menjuntai ke sungai.

Pintu air yang menghadap kali pemali

Sedang untuk aliran air ke kali Pemali, air tidak begitu banyak dibagi. Ada dua pintu berjejeran. Nah, disitulah spot untuk mencari ikan uceng. Habitat ikan uceng berada di dinding benteng pintu air yang ada aliran air yang mengalir. Berbentuk kecil dan memanjang seperti jari kelingking dan berwarna gelap.

Cara mendapatkanya sangat konvensianal. Air yang mengendong dikuras hingga air tersisa sedikit. Lalu setelah itu di cari dengan jaring. Biasanya menggunakan irig atau parak. Disebut juga nener atau nyeser. Irig terbuat dari anyaman bambu dengan kepadatan anyaman yang tidak begitu rapat ada celah. Sedang marak adalah jenis kegiatan mencari ikan. Seser sendiri terbuat dari jaring yang diikatkan pada bambu yang membentuk segi tiga tapi disisinya tidak runcing.

Cara ini lebih dianggap aman dan ramah lingkungan. Dibanding dengan cara menyetrum atau menggunakan portas yang secara otomatis merusak ekosistem kali.

Sayang, seiring berjalannya waktu wajah Pintu mulai renta. Besi-besi mesin pengatur air ada yang mencuri dan ada pula yang rapuh berkarat. Sedang pohon waru doyong sudah tidak ada. Kemudian di awal tahun 2016 terjadi banjir bandang. Aliran air kali keruh menerobos Pintu. Benteng Pintu air banyak yang rusak terkena terjangan bebatuan. Teras pintu air rusak dan sawah-sawah pun menjadi ladang bebatuan.

Dengan dikelilingi hamparan hijau sawah memanjakan mata yang memandang. Sawah-sawah disekitar sudah kembali produktif. Pintu membisu dan sepi tanpa teman. Tidak ada lagi canda, tawa, tangis anak disekelilingnya. Pintu menyendiri dan hanya sesekali petani melewati dengan muka lelah.