![]() |
| (Foto: Seputar Pernikahan) |
Menikah itu tidak harus urut sesuai lahir apalagi urut absen waktu sekolah. Sering kita lihat pacaran lama sama siapa berjodohnya dengan siapa. Ini bukan perkara tikung menikung. Ada campur Sang Kholik yang menjalankan skenarionya. Bukan hal tabu atau ditutup-tutupi dilingkungan kita banyak peristiwa dilangkah.
Seperti yang saya alami, hampir 2 kali dilangkah menikah oleh adik perempuan. Jika sesama adik perempuan atau lelaki biasanya orang tua akan lebih khawatir ketimbang jika adik perempuan melangkah kakak laki-laki. Konon, jika dilangkah akan seret jodoh. Kekhawatiran menjadi perawan tua atau bujang tua itu menghantui pikiran orangtua.
Menyoal rasa saat dilangkah itu bercampur aduk. Sedih dan bahagia. Lebih sedih saat banyak orang bilang "kasian dilangkah" rasanya itu makin membuat lemah. Bahagia karena adik diberi amanah berrumah tangga dahulu. Butuh waktu untuk menguatkan diri. Butuh waktu agar hati dan pikiran bersatu untuk berdiri dan menerima. Seperti terlihat cengeng, entah lah itu yang dirasakan. Bagaimana dengan kalian yang sudah merasakan dilangkah?
Tradisi langkahan berasal dari kata ‘langkah’ yang berarti ‘melompat.’ Pada prinsipnya, prosesi langkahan merupakan suatu permohonan izin dan juga restu sang adik kepada kakaknya untuk menikah lebih dulu. Biasanya, prosesi langkahan dilaksanakan oleh calon pengantin sebelum melakukan serangkaian prosesi persiapan pernikahan dan hanya dihadiri oleh anggota keluarga dan kerabat dekat. Selain mengharapkan restu, ritual ini pun menyimpan harapan akan kelancaran pernikahan sang adik juga kelancaran jodoh bagi si kakak.
Sebagai bentuk penghormatan kepada kakaknya, sang adik akan menyiapkan hadiah untuk diberikan saat prosesi langkahan. Di daerah Bumiayu hampir tidak ada prosesi yang berlebihan soal adat langkahan. Hadiah sebagau langkahan biasanya tidak jauh dari kebutuhan yang dilangkah. Kalau tidak sang pengantin akan memenuhi permintaan yang dilangkah. Itu pun tak banyak, hanya sekedarnya.
Sebagai kakak yang dilangkah, harusnya menyadari. Kakak yang dilangkah bukanlah syarat dan rukun nikah. Jadi, pernikahan bisa tetap berlangsung dan syah tanpa ada yang dilangkah. Kecuali yang dilangkah adalah wali nikah. Sebagai kakak yang bijak, senantiasa mendoakan dengan keikhlasan hati agar pengantin menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah.
Dalam hal menikah, ada banyak aturan yang ditetapkan berdasarkan adat di sekitar lingkungan. Sebenarnya ini tidak masalah, karena Islam menghargai adat dan budaya, selama tidak bertentangan dengan aturan Allah dan tidak ada unsur kezaliman.
Kembali soal jodoh, ada campur tangan Allah. Urusan jodoh, rizki, maut Allah yang mengaturnya. Disaat sendiri kita bisa leluasa travelling tanpa dibebani pasangan atau anak. Menikmati kebersamaan dengan teman atau alam yang menyeduhkan kehangatan pandangan. Lebih banyak waktu untuk membahagiakan dan memanjakan diri.
Toh hidup tidak melulu perkara jodoh. Menjalani hidup sendiri tak selamanya menyedihkan. Ada saatnya untuk berbenah diri. Allah sudah memastikan orang baik dipersiapkan untuk orang baik. Begitupun sebaliknya.
Pada saatnya menikah pasti tiba. Asal membuka diri dengan lawan jenis. Memprioritaskan diri untuk lebih dekat lagi dengan Sang Pencipta. Semakin dekat dengan Dia semakin nyaman pula. Tidak ada yang terlambat soal jodoh. Allah Maha Tahu, Dia sebaik-baik rencana. Sayangnya kita kadang kurang memahaminya. Jika Allah berkehendak, insya Allah akan dimudahkan jalannya.
Qodarullah sebelum usia 30 jodoh itu datang, itu ceritaku. Dan bidadari sholehah mungil itu sudah hadir ditengah kami. (*)
