![]() |
| (Foto: instagram/disafaz) |
Hai para calon pengantin (capen) , kuy persiapkan diri untuk memantaskan diri jadi pria berani. Pria yang berani bukan yang memacari wanita, tapi lelaki yang membawa orang tua untuk meminta menikahi wanita pujaannya tersebut.
Hayoo gimana para pejuang cinta? Pejuang cinta itu diam-diam mendoakan agar segera bisa disatukan. Bukan yang terang-terangan mengumbar kemesraan tanpa status menikah.
Begini prosesnya yang sangat mudah.
1. Mojar atau poyan
Seseorang akan melamar tentu diawali dengan komunikasi dua belah pihak, antara keluarga lelaki dan perempuan. Istilah mojar dalam bahasa ngapak diartikan dengan meminta izin.
Biasanya dari keluarga laki-laki, bapa kandung atau orang yang dituakan akan bersilaturrohmi ke keluarga untuk meminta izin untuk mempersunting anaknya.
Jika ada keputusan menyetujui atau mengiyakan dari wanita yang akan dilamar dan keluarga besar, maka selanjutnya keluarga besar yang akan datang.
2. Lamaran
Lamaran adalah langkah awal bukti nyata keseriusan sebuah hubungan sebelum melangsungkan pernikahan. Di dalam prosesi lamaran, pihak keluarga calon pengantin laki-laki mendatangi pihak keluarga perempuan untuk meminang pujaan hati tersebut.
Tujuan kedatangan keluarga pria ini sebagai bentuk permohonan kepada keluarga perempuan agar mengizinkan sang pria mempersunting anak gadis mereka untuk dijadikan pendamping hidup.
Sedikit membahas perbedaan antara tunangan dan lamaran. Secara bahasa, keduanya memang memiliki arti yang terdengar serupa. Tunangan atau bertunangan adalah bersepakat menjadi suami istri, yang biasanya dilakukan di depan orang banyak. Sedangkan lamaran atau melamar adalah meminta atau meminang seseorang untuk menjadi pengantinnya.
Kembali ke acara lamaran. Sebagai pengetuk pintu biasanya membawa hantaran. Hampir sama dan sering disebut sama dengan seserahan, hantaran lebih kepada oleh-oleh atau buah tangan yang diberikan pihak pengantin pria kepada pihak pengantin wanita atau pun sebaliknya. Makanya, hantaran bisa juga disebut sebagai ‘pengetuk pintu’.
Jadi, hantaran dalam pernikahan diberikan oleh kedua belah pihak di mana masing-masing saling memberi dan menerima atau tukar menukar hantaran. Isi hantaran biasanya berupa berbagai macam makanan dan sembako yang dikemas menarik.Tidak banyak seperti seserahan. Biasanya berupa makanan ringan, kue basah dan buah.
Kedua keluarga besar akan membicarakan soal rencana dan persiapan pernikahan. Seseorang yang ditunjuk akan mengantar pembicaraan. Pengutaraan maksud dan tujuan kedatangan rombongan keluarga pria biasanya dilakukan oleh wakil dari keluarga yang sudah ditunjuk. Sebagai formalitas, pihak keluarga pria juga menanyakan kesediaan mempelai wanita untuk menerima atau menolak lamaran.
“Jadi maksud kedatangan kami ke sini adalah meminang Mbak Nisa untuk anak kami, Bari.”
Penerimaan lamaran ditandai dengan sambutan dari pihak keluarga wanita
Gimana, Nok?
Gimana, Nok?
“Ya, saya terima lamaran dari Mas Bari” *sambil tersipu malu*
Jika calon mempelai wanita menerima, maka dari pihak keluarga wanita akan memberikan sambutan penerimaan sebagai tanda bahwa pihak keluarga menyambut baik rencana lamaran dari pihak pria. Sambutan ini juga dilakukan oleh wakil keluarga yang sudah ditunjuk sebelumnya. Kemudian secara bergantian memperkenalkan keluarga masing-masing.
Acara dilanjutkan dengan penyerahan secara simbolis hantaran yang dibawa dari pihak pria kepada pihak wanita. Proses ini dilakukan dari Ibu sang pria kepada Ibu sang wanita. Setelah itu, sebagai tanda betapa besar cinta kasih keluarga wanita kepada calon mempelai pria, maka diserahkan pula hantaran balasan yang bisa berupa seperangkat pakaian pria atau jenis lain sesuai dengan kesepakatan sebelumnya.
3. Dicancang atau diikat
Untuk memperkuat bukti lamaran, sebuah cincin dipasang oleh ibu sang pria akan memasangkan cincin kepada wanita dan sebaliknya, dari ibu sang wanita kepada pria. Memang bukan oleh lelaki yang melamar, karena bukan muhrim. Ini pertanda sudah ada ikatan. Berarti tidak boleh lagi membuka pintu hati ke orang lain. Dicancang atau diikat dengan simbol cincin pemanis jari.
Seperti dalil ini menegaskan, dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda : “Janganlah meminang wanita islami yang telah dipinang saudaranya, dan janganlah menawar barang yang telah ditawar saudaranya “ ( HR Muslim, no : 2519 )
4. Dikuren
Setelah acara selesai, tamu dijamu atau dikuren dalam bahasa ngapak. Terakhir, makan-makan menjadi bagian yang nggak boleh dilewatkan. Momen ini juga jadi acara yang bisa mengakrabkan kedua keluarga yang akan menjadi satu ketika akad nikah nanti digelar.
Begitu capeng 😀 semangat untuk berbebah diri dan mempersiapkan yang terbaik untuk masa depanmu. Semoga Allah SWT memperjalankan jodoh anda dengan dimudahkan.
#qismika'smom
