![]() |
| Natasmedia.com |
Menelisik kota metropolitan Jakarta, wajar saja selalu berbenah dan bersolek. Ibu kota negara Indonesia tentu menjadi sorotan mata dunia.
Jakarta memiliki daya tarik sendiri. Gedung-gedung yang menjulang tinggi dengan segala pusat ekonomi, peradaban, hiburan dll. "Tak selalu yang berkilau itu indah" benar, dibalik semuanya itu ada sisi potret buramnya.
Dari sekian banyak keistimewaan Jakarta, hanya 2 hal ini yang bikin iri. Jika saja ada disemua wilayah Indonesia. Memiliki kota yang bersih dan ramah anak itu menjadi dambaan masyarakat. Semua itu tentu terjadi berkat campur tangan pemerintah setempaj dan masyarakatnya. Dan akan lestari, aman dan terkendali bila ditunjang dengan kebijakan dan kesadaran masyarakat yang tinggi. Yang mau bersama-bersama mencintai dan merawat lingkungannya.
1. Ada pasukan orange & biru
Dilansir dari www.loop.co.id Sistem daur ulang sampah plastik di Indonesia belum menyeluruh. Dan seperti yang kamu tahu, kesadaran masyarakat akan bahaya sampah plastik masih minim. Mungkin hal itulah yang membuat Indonesia berada di posisi runner-up negara penghasil sampah plastik terbesar di dunia. Negara kita berkontribusi atas 3,2 juta ton sampah di lautan setiap tahunnya. Hal itu membuat Indonesia jadi penghasil sampah plastik terbanyak di Asia Tenggara.
Nah, hadirnya pasukan orange salah satu petugas kebersihan yang mengurusi sampah. Keberadaan pasukan berseragam warna telah sering dilihat warga Jakarta. Pasukan oranye, mereka membersihkan dan menangani masalah lingkungan per kelurahan. Setiap hari bersenjata sapu menyapu jalanan ibu kota.
Pasukan oranye adalah sebutan populer untuk pekerja Penanganan Prasaran dan Sarana Umum (PPSU). Mereka direkrut oleh kelurahan-kelurahan di Jakarta. Mereka berbaju jumsuit orange dan bersepatu boot orange juga.
Mengutip dari detik.com, dalam menjalankan tugas PPSU ada lima tugas pokok dan fungsi dan ini sudah diatur dalam Pergub Nomor 212 Tahun 2016. Kelima tugas pokok dan fungsi ini antara lain penanganan prasarana dan sarana jalan, penanganan prasarana dan sarana saluran, penanganan prasarana dan sarana taman, penanganan prasarana dan sarana kebersihan, serta penanganan prasarana dan sarana penerangan jalan umum.
Jumlah mereka ada 40-70 orang di tiap kelurahan, tergantung kebutuhan per kelurahan. Pasukan oranye bekerja bergiliran (sistem shift), satu shift-nya selama delapan jam. Mereka bekerja tanpa uang lembur.
Ada pula pasukan biru. Sementara pasukan oranye adalah pegawai rekrutan kelurahan, pasukan biru adalah pegawai rekrutan Dinas Sumber Daya Air (dulu Dinas Tata Air) DKI Jakarta. Mereka adalah Pekerja Harian Lepas (PHL) yang dikontrak setahun.
Sebenarnya pasukan biru ada berbagai macam. Namun yang biasa dilihat di jalan adalah pasukan biru golongan Petugas Kebersihan Luar Gedung. Mereka membersihkan drainase serta menangani banjir dan genangan di kota. Gaji pasukan biru golongan ini sama saja dengan pasukan oranye.
Bedanya dengan pasukan oranye, pasukan biru diberikan jatah lembur. Kalau ada pekerjaan di malam hari atau Sabtu dan Minggu, mereka mendapat uang lembur. Keduanya sama-sama memiliki tunjangan BPJS dan gaji UMR.
Yang paling disoroti adalah disediakannya tempat pembuangan sampah sementara ditiap kampung. Kemudian setiap pagi petugas mengangkutnya ke pembuangan pusat.
Jika saja disemua kampung-kampung kecil memiliki tempat pembuangan sampah. Mungkin tidak banyak warga yang membuang sampah ke sungai, tepi jalan, selokan air. Hingga kemudian hari membuat banjir dan sampah-sampah mengalir ke laut. Dan jadi sumber masalah untuk semua ekosistem laut. Sungguh menyedihkan, bukan?
Kembali kepada Sumber Daya Manusia(SDM) itu sendiri. Pola hidup sehat dan menjaga lingkungan yang tertanam akan sangat berpengaruh. Sayangnya, warga Jakarta masih banyak yang sering buang sampah di sungai dan dijalanan. Ini yang membuat sedih, sungai berwarna hitam dengan aroma tak sedap menjadi pemandangan sehari-hari.
2. Ada RPTRA
![]() |
| Dok. Pribadi (RPTRA Pandawa Tanah Tinggi) |
Memiliki ruangan terbuka dan ramah anak sangat didambakan didaerah manapun. Mengingat kecanggihan tekhnologi yang kerap membuat anak betah berlama-lama di depan layar. Dengan adanya ruangan terbuka diharapkan ada ruangan sosial baru, tempat bermain dan belajar bersama.
Ruang Publik Terpadu Ramah Anak atau juga dikenal dengan singkatan RPTRA adalah konsep ruang publik berupa ruang terbuka hijau atau taman yang dilengkapi dengan berbagai permainan menarik, pengawasan CCTV, dan ruangan-ruangan yang melayani kepentingan komuniti yang ada di sekitar RPTRA tersebut, seperti ruang perpustakaan, PKK Mart, ruang laktasi, dan lainnya. RPTRA juga dibangun tidak di posisi strategis, tetapi berada di tengah pemukiman warga, terutama lapisan bawah dan padat penduduk, sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh warga di sekitar.
RPTRA, yang diinisiasi oleh Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama dibangun sebagian besarnya dengan menggunakan sumbangan dana Corporate Social Responsibility. Peran pemprov biasanya dengan menyediakan lahan. Biaya pembangunan biasanya berkisar 400-750 juta dari pihak swasta. Proses pembangunan, pengawasan, dan pemeliharaan RPTRA juga melibatkan masyarakat sekitar. Bahkan perawatan taman juga dilakukan oleh masyarakat di sekitar RPTRA dan dikoordinir oleh ibu-ibu PKK. Harapannya, RPTRA bisa ikut membantu kota DKI Jakarta untuk bisa meraih status kota layak anak sekaligus menyediakan ruang terbuka hijau bagi publik.
Setiap RPTRA memiliki fasilitas permainan seperti prosotan, ayunan batita dan ayunan anak diatas batita hingga usia 10 tahun, jungkat jungkit, kuda-kudaan yang dipasang diatas karpet karet yang empuk. Fasilitas ini sangat memperhatikan kenyamanan dan meminimalisir kecelakaan.
![]() |
| Jadwal kursus gratis RPTRA Pandawa |
Tak hanya itu, petugas yang menjaga RPTRA bukan hanya menjaga kebersihan saja. Mereka juga merangkap mengawasi dan memfasilitasi anak-anak yang akan belajar. Seperti kegiatan kursus calistung (membaca menulis menghitung), menari dan menggambar. Semua kegiatan tsb tidak dipungut biaya alias gratis. Juga kegiatan lain yang menyangkut masyarakat sekitar, seperti imunisasi balita, senam untuk kaum ibu, rapat warga dll.
RPTRA dibuka dari jam 06.00 pagi hingga petang menjelang magrib. Kemudian dibuka kembali usai sholat dan ditutup paling lambat pukul 22.00. Pengawasan ketat ini bertujuan menghindari RPTRA menjadi tempat yang tidak seharusnya dilakukan, layaknya berpacaran. Bahkan kawasan yang dikelilingi pagar besi yang tinggi itu bebas dari asap rokok.
Jika saja ini diterapkan disemua daerah. Alangkah bahagianya merawat tunas bangsa dengan keceriaan bermain. Bermain di bawah pohon dan berlarian ditanah lapang bersama teman-teman. Membiasakan untuk tidak melulu merunduk dan berolahraga bersama teman biar badan sehat. Bukan teman virtual yang menyapa lewat media sosial.
#qismika'smom


